Gerakan #AkuCintaRupiah Bisa Sukses dan Konkret Jika…




…Saya, Anda, dan mereka bisa menjawab lima tantangan yang nyata di bawah ini.

Gerakan Cinta Rupiah tidak boleh diartikan sebagai gerakan antivalas atau investasi asing. Tentu, saya tidak menentang himbauan agar seluruh masyarakat Indonesia semakin sering bertransaksi dalam rupiah. Hanya saja, terkadang banyak yang menerjemahkan bahwa agar rupiah “menang” masyarakat Indonesia harus “membenci” mata uang asing. Hal itu yang saya tidak sepakat.

Menurut saya, “pemujaan terhadap Dollar” atau mata uang asing lainnya bukanlah hal yang mesti ditakuti oleh pemerintah. Ini karena generasi Y seperti saya (dan jutaan orang lainnya) masih akan sangat bergantung pada rupiah— selama kami masih hidup dan mencari nafkah di Tanah Air—untuk menabung untuk kepentingan resepsi pernikahan, mencicil rumah, investasi, bergabung dengan MLM, dan sebagainnya.

Merupakan hal yang baik bagi mahasiswa dan masyarakat luas untuk mengetahui tugas dan fungsi dari Bank Indonesia (BI), bagaimana rupiah dikelola, dicetak, diedarkan, dan dipelihara melalui kampanye yang dilakukan BI dari kampus ke kampus. Namun, kurangnya pengetahuan mengenai tugas pokok dan fungsi BI bukanlah faktor penentu kesuksesan Gerakan Cinta Rupiah, melainkan aspek-aspek sosial-politik yang melibatkan elit yang implikasinya akan dirasakan oleh masyarakat secara langsung maupun tidak langsung yang merupakan kunci.

Berikut adalah lima hal yang sangat menentukan umumnya perekonomian Indonesia dan khususnya kesuksesan Gerakan Cinta Rupiah—yang semuanya sangat mudah untuk dipahami—versi saya:

1. Iklim Investasi yang Kondusif

Presiden Joko “Jokowi” Widodo sangat menyadari faktor ini amat sangat menentukan perekonomian kita ke depan. Saat ini, kita menempati peringkat 72 dari yang sebelumnya bertengger di peringkat 91 dalam kemudahan berusaha versi Bank Dunia—setelah Pak Jokowi marah—dan ini akan semakin progresif jika komitmen dan etika kerja kita semakin tinggi.

Semakin kondusif iklim investasi Indonesia, semakin banyak investor asing/lokal yang masuk dan memulai bisnis, semakin banyak lapangan kerja yang tercipta, pada akhirnya semakin banyak rupiah yang dikelola dan beredar. It’s not a rocket science.

2. Regulasi yang Jelas dan Efisien

Komisioner Perdagangan dan Manajer untuk Indonesia di Dewan Perdagangan dan Investasi Swedia, Anders Wickberg, mengungkapkan bahwa ketidakpastian regulasi menjadi kendala utama pengusaha-pengusaha asal negara Skandinavia tersebut menjalankan bisnis di Indonesia. Anders tidak sendiri, US Chamber of Commerce in Indonesia (AmCham), British Chamber of Commerce (Britcham), European Chamber of Commerce (Eurocham) hingga Kamar Dagang Indonesia (Kadin) dan sejumlah pakar mengamini itu. Artinya, masih ada isu performa yang cukup serius baik di ranah eksekutif maupun legislatif dalam menentukan kejelasan regulasi yang berkenaan dengan berbagai industri.

Belum lagi jumlah perizinan yang mengada-ada di pusat maupun daerah sehingga investor enggan melanjutkan berbisnis. Potensi rupiah dan sumber daya manusia Indonesia yang dapat meningkat kualitasnya akibat investasi yang strategis bisa tertunda bahkan tidak akan pernah terjadi jika tidak ada perbaikan performa eksekutif dan legislatif dalam membuat regulasi.

3. Suasana Politik yang Stabil

Ketika demonstrasi, kerusuhan, dan pemerasan terjadi di Jakarta maupun daerah, maka akan memunculkan keresahan tidak hanya bagi masyarakat sekitar yang tidak menghendaki hal tersebut, tapi juga para investor. Lebih jauh lagi, jika sentimen negatif terhadap investor dari negra lain atau diskursus beraroma xenophobia lainnya dipakai sebagai narasi.

Ketidakstabilan politik tersebut, jika sudah sangat parah, sangat mungkin membuat para investor yang ada hengkang dan yang menakuti mereka yang ingin masuk ke Indonesia. Akibatnya? Pabrik atau kantor akan sangat mungkin tutup, pengangguran meningkat, masalah sosial bertambah, dan itu semua tidak membantu performa rupiah sama sekali.

4. Literasi dan Inklusi Keuangan yang Baik

Pemerintah dan pihak swasta terutama dari industri perbankan dan asuransi saat ini tengah gencar untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan masyarakat Indonesia (bukan hanya bagi penghuni  Jawa). Literasi dan inklusi keuangan akan membuat setiap orang—terutama para pekerja informal dari golongan menengah ke bawah— semakin memiliki akses untuk membuka rekening di bank atau polis asuransi sehingga masyarakat bisa berinvestasi, menabung (dengan rupiah tentunya), dan menikmati produk layanan keuangan lainnya. Dengan begitu, masyarakat semakin mengetahui manfaat, risiko, potensi, dan manajemen rupiah dalam sistem keuangan yang dapat membantu meningkatkan kekuatan perekonomian dan mata uang negara.

5. Literasi Media yang Baik

Hal ini berkaitan erat dengan stabilitas politik yang tidak hanya diperlukan di ranah offline, akan tetapi juga di ranah online. Media digital dengan segala manfaatnya, tidak dapat dipungkiri memiliki sisi gelap. Propaganda yang dilakukan secara online juga dapat berujung pada gerakan-gerakan atau demonstrasi yang bisa merugikan stabilitas perekonomian negara.  

Semakin bermunculannya media dan akun penyebar sekaligus pembuat hoax yang sistematis (didanai oleh elit) dan membakar emosi orang-orang yang lemah kadar kesabarannya menuntut masyarakat untuk semakin cerdas dalam mengkonsumsi informasi digital. Oleh karena itu, tingkat literasi media yang mumpuni dibarengi dengan tingkat kesabaran, kemampuan berpikir kritis dan terbuka diperlukan setiap individu dan kelompok dalam menjaga stabilitas perekonomian Indonesia.

Kesimpulan

Pada akhirnya, saya hanya bisa memulai dari pribadi sendiri dan mengajak orang lain sebanyak mungkin untuk sebisa mungkin menjawab lima tantangan di atas dan secara laingsung maupun tidak langsung menyukseskan setiap gerakan yang cita-cita akhirnya adalah Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Comments

Popular Posts