Siapa itu Muti'ah?


Muti'ah (kini merupakan istri orang lain dan seorang Ibu) dan saya beribu-ribu tahun yang lalu

"Honestly, you can't be ashamed of being an honest." -Ricky Gervais (2013, The Tonight Show Starring Jimmy Fallon)

Namanya adalah Muti'ah. Itu saja, irit bukan? Saya sih suka wanita yang irit.

Muti'ah adalah seorang istri dari seorang buruh miskin yang sangat taat kepada suaminya. Setiap suaminya pulang kerja ia selalu mengelap keringat yang mengucur dari tubuh yang baru bekerja keras itu. Bahkan, Nabi Muhammad SAW menyebut Muti'ah adalah wanita pertama yang akan masuk surga, bukan istri nabi sendiri.

Biarpun begini, saya juga pernah jatuh cinta. Setidaknya, beribu-ribu tahun lalu saya meyakini begitulah rasanya jatuh cinta. Ternyata, perasaan semacam itu yang membuat saya manusia.

Masa Lalu
Saya dan Muti (begitu saya memanggilnya) sayangnya, bukanlah jenis manusia yang sering mengobrol berdua pada saat itu. Saya hanya berkutat dengan bertahan hidup di kelas yang diunggulkan secara akademis, bermain musik, latihan paduan suara dan bermain basket; sementara dia terlihat bahagia dengan teman-teman wanita di kelasnya. Jika waktu dapat diputar kembali ke masa itu, mungkin itu akan menjadi salah satu hal terpenting yang akan saya ubah.

Sangat menyenangkan, bagi saya, untuk selalu mengingat wanita yang baik ini. Ia seolah telah mengajarkan banyak hal kepada saya, atau paling tidak ia sudah dapat membuat saya melakukan apa yang sebelumnya saya pikir tidak akan pernah bisa saya lakukan sekalipun.

Aneh memang, bagaimana bisa seseorang mengajarkan banyak hal jika mengobrol secara ekslusif saja sangat jarang terjadi? Di titik ini, banyak hal yang mustahil saya jelaskan secara masuk akal untuk menguatkan keyakinan bahwa ia, entah bagaimana, merupakan motivasi yang kuat yang memengaruhi saya selama ini.

Ketika saya sudah tidak dapat lagi menjelaskan banyak hal tentang seseorang yang saya kagumi atau suka secara masuk akal, di situlah saya merasa telah jatuh cinta.

Di kepala saya; masih tergambar jelas adegan di mana ia menenteng mukena ke mushola/mesjid di sekolah untuk solat, menyanyi bersama ketika latihan paduan suara, saling senyum tersipu malu ketika digoda teman-teman wanitanya atau ketika saya menyaksikan ia menangis sendirian di tangga menuju kelasnya.

Ya, saya kira saya adalah satu-satunya orang yang secara kebetulan pernah menyaksikan ia menangis di tangga waktu itu. Rasanya, kami pernah membahas kejadian itu dan meskipun ia masih mengingat momen itu, ia tidak ingat apa yang menyebabkan ia menangis saat itu.

Siapa yang pernah menyangka bahwa dari kejadian yang saya lihat itu, saya terinspirasi untuk membuat sebuah lagu berjudul Impossible, yang bercerita tentang laki-laki yang mengerti bahwa seorang wanita tengah kesusahan melawan dunia dan cobaan di dalamnya, namun keadaan tidak memungkinkan laki-laki itu untuk membantunya menghadapi itu semua.

Berangkat dari situ, saya jadi mulai secara perlahan berani untuk membuat lagu lainnya. Begitu nikmat rasanya. Jika saja saya tidak pernah menyaksikan kejadian dengan sosok yang tepat itu, saya tidak akan pernah tahu apakah saat ini saya masih berselera untuk terus berkarya dan menikmati musik.

Seperti yang saya katakan tadi, Ia seolah telah mengajarkan banyak hal kepada saya, atau paling tidak ia sudah dapat membuat saya melakukan apa yang sebelumnya saya pikir tidak akan pernah bisa saya lakukan.

"Jangan pernah malu menjadi orang yang jujur. Negara ini sedang membutuhkan lebih banyak orang yang seperti itu."

 
Masa Kini
Jangan salah paham, saya sudah tidak berharap bahwa ia akan menjadi wanita yang menyambut saya dengan senyum manis dari bibir kecilnya ketika saya pulang kerja. Saat ini, ia sudah berkeluarga, memiliki satu anak, dan akan menjadi istri sekaligus Ibu yang luar biasa, persis seperti gambaran Muti'ah di atas tadi, Insha Allah.

Namun, saya enggan menghapus semua kenangan dan pelajaran yang saya dapat darinya. Itu akan seperti memencet tombol OFF dari proses kreativitas saya. Dalam konteks asmara, rasanya semua sudah selesai; tapi dalam konteks menghargai pengalaman hidup, rasanya itu semua patut dipertahankan.

Rasanya, ia tidak tahu, mungkin tidak akan pernah tahu, bahwa ia memiliki peranan yang begitu penting  di masa lalu dan masa sekarang yang saya jalani. Tapi, bukankah manusia memang seperti itu? Beberapa dari kita begitu bermakna bagi orang lain, mungkin tidak pernah saling tahu dan tidak pernah saling memiliki, kemudian berakhir hanya mengagumi.

Kesimpulan
Pada akhirnya, tulisan ini adalah sebuah penghargaan bagi kami berdua. Saya berterimakasih atas segala peranan yang ia mainkan, meskipun hanya sebentar, di dalam hidup saya. Kemudian, saya berterimakasih kepada diri saya sendiri karena telah berhasil melewati masa-masa itu dan bertahan hidup hingga saat ini.

Terima kasih, Mut.

Comments

Popular Posts