Cerpen: Emma

"Setiap hari aku terbangun rasanya seperti terbangun dari mimpi satu untuk masuk ke satu mimpi yang lain".
Emma Namanya Emma. Adik kelas semasa SMA yang aku temui tak sengaja di travel menuju Purwakarta.
Aku dan dia terpaut dua tahun. Ketika aku kelas 3 SMA, dia adalah salah satu primadona kelas 1 SMA yang banyak sekali diincar oleh lelaki dari berbagai tingkat dan kelas.
Tentu saja kami ga pernah ngobrol waktu itu. Aku hanya seorang KM (Ketua Murid) yang culun di kelas yang dicap sebagai kelas yang berisikan orang-orang aneh, dan dia jauh berada di langit dengan sebangsanya.
Aku tidak pernah terlalu memperhatikannya karena aku tahu diri. Tetapi, orang-orang di sekitarku sering sekali membicarakannya ketika kami berkumpul, jadi mau tak mau aku harus yaaa.. sekedar tahu tentangnya.
Beberapa tahun kemudian inilah kami, dipertemukan di sebuah travel menuju Purwakarta. Aku memberanikan diri untuk menyapanya dengan sopan sebagai manusia yang beradab dan dia—untungnya—membalas sapaan itu.
Aku tidak menyangka bahwa dia sangat supel dan menyenangkan diajak berbicara. Aku bahkan tak sempat berpikir bahwa ini adalah primadona sekolah yang tidak semua orang dapat mengajaknya berbicara sedekat dan seterbuka ini. Setengah perjalanan menuju kampung halaman kami habiskan mengobrol ngaler-ngidul.
Sulit dipercaya.
Ternyata dia juga bekerja di Jakarta, di gedung yang sama tempat biasa aku menonton film di bioskop.
Ia berkata, “Kalau nanti kamu nonton ke situ lagi, kasih tahu aku dong,”

dan aku mejawab, “Dengan senang hati. Tapi, bagaimana caranya coba aku menghubungi kamu?”

Suasana agak sedikit canggung setelahnya dan dia tersipu malu.

Kemudian ia bertanya, “Jadi mau apa dong? Nomor HP? Pin BB?” Dan aku menjawab, “Ya, terserah. Apapun yang kamu rela kasih.”

Tanpa disangka dia menawarkan pin Blackberry Messenger-nya dengan sukarela. Aku masih tidak percaya bahwa itu benar-benar terjadi.
Berpisah di pangkalan travel di kampung halaman kami, aku menuju angkutan kota tercinta, dan dia menuju mobil di mana seorang pria yang semenjak di perjalanan tak henti meneleponnya sudah menunggunya. Namun, aku yakin dia bukan Ayahnya.

Rendezvous
Kami kembali ke Jakarta secara terpisah di malam yang sama. Kami kembali ke rutinitas masing-masing. Hari itu, dengan semangat bujangan lapuk, aku mengajakanya menonton premiere sebuah film di dekat kantornya sesuai pakta verbal di travel tempo hari. Tentu saja aku berharap dia akan menolak mentah-mentah tawaranku seperti gadis lainnya dan hari-hariku akan berjalan normal kemabli setelah itu.
Ternyata harapanku meleset, dia menerima tawaranku dan kami berjanji untuk bertemu hari itu.
Di mall besar itu kami bertemu.
 “Sorrryy telat, tadi aku banyak kerjaan,” begitu teriaknya setelah menemukanku di tengah kerumunan orang yang akan membeli tiket bioskop.

“Kita telat 10 menit. Ya udahlah yah. Kamu yakin mau nonton film ini?” tanyaku meyakinkan.

“Emang film apa sih? Action?” tanyanya. “Iya, kamu suka?” jawabku. “Suka dong..” jawabnya.

Cerita Emma
Setelah sekitar dua jam menyaksikan Emma menutup telinganya di dalam sinema sepanjang film ditayangkan, kami memutuskan untuk mencari sesuatu untuk dimakan. Kami berbincang saling berhadapan di meja kayu untuk berdua di restoran cepat saji. Mekipun kami memakan ‘sampah’, bagiku, malam itu adalah anugerah. Itu kesempatan pertamaku—dan mungkin terakhir—untuk memandangi dengan leluasa wajahnya yang berwarna seperti buah persik nan ayu berpadu dengan rambut hitamnya yang halus sebahu.
Aku berusaha untuk tidak canggung dan akhirnya memantapkan diri untuk menjadi diri sendiri di depannya. Aku kemudian memutuskan untuk berbicara dan bersikap seperti aku berhadapan dengan teman-teman diskusi sekolah dan kampus yang menyenangkan dan terkadang meneganggkan.
Aku tidak akan menahan diri—baiklah, pengecualian untuk beberapa hal yang terlalu pribadi baginya, tapi bukan bagiku.
Entah mengapa ia mengarahkan arah pembicaraan kami ke topik yang paling menyenangkan, yaitu pernikahan. Tak lama kemudian aku semacam semakin mulai memahami alasannya mengarahkan pembicaraan ini.
“Kalau kamu udah punya calon istri, saling mencintai dan dia ngebet nikah sementara modal kamu nikah belum kekumpul, apa kamu mau minjem duit ke satu bank aja buat melangsungkan pernikahan secepatnya?” tanya Emma kepadaku.

Dengan berusaha untuk tenang, aku menjawab, “Engga. Aku akan minta dia buat mencari lelaki yang sudah siap menjaminnya secara materi dari mulai pernikahan hingga setelahnya jika dia memang udah bener-bener ngebet.”

“Jika memaksakan skenario meminjam sebagian besar biaya menikah ke bank akan terlalu banyak hutang yang mesti dibayar. Kasihan keluargaku nanti,” lanjutku.

Ia mengangguk tanda setuju dan sedikit menyunggingkan senyum yang semakin membuat perasaanku tidak karuan. Aku malah semakin penasaran.

“Tapi kalian kan sudah sangat saling cinta?!” ujarnya.

“Ya, ga apa-apa. Itu sikapku. Harga yang harus dibayar memang sangat mahal. Tapi, jika memaksakan seperti itu juga aku ga yakin itu langkah yang tepat,” jawabku.

Dia terlihat semakin terbuka dengan pembahasan ini.

“Itu salah satu alasanku putus dengan mantanku kemarin,” kata Emma tanpa aku bertanya sedikitpun tentang hal itu sebelumnya.

“Dia ingin kami cepat menikah. Tapi, dia ingin aku harus meninggalkan karirku. Poin itu aku keberatan, aku baru lulus, masih muda dan masih hidup, masih ingin mecoba dan meraih banyak hal. Aku minta kalau kami tunangan dulu aja. Tapi dia ga terbuka dengan kompromi. Seolah-olah dia ingin kami menikah bulan depan. Segera!” ceritanya penuh emosi.

“Apa menurut kamu aku egois dengan tidak ingin melepaskan karirku dan menolak permintaannya untuk menikah di umurnya yang sudah harus menikah—27 tahun—dan akhirnya kami putus?” tanya dia kepadaku.

“Kalau kamu nanya aku, jawabanku Tidak. Kamu tidak egois. Aku percaya kalau setiap orang berhak untuk memilih apa yang terbaik bagi hidupnya. Hidupmu itu ya keputusanmu. Tapi selalu ada ruang untuk kompromi,” jawabku sok tahu.

Wajahnya menunjukkan tanda setuju atas penjelasanku. Lalu ia menjelaskan, “Aku bilang ke dia, wanita itu banyak di dunia ini. Carilah dia yang mau dan siap kamu ajak menikah secepatnya, terus putusin aku”.

Ia bercerita kepadaku bahwa mantan kekasihnya telah memiliki sebagian modal pernikahan dan hendak menggunakan skenario meminjam ke bank yang Emma tanyakan kepadaku. Ternyata Emma dan orangtuanya cenderung menentang skenario itu. Emma sangat mempertimbangkan sikap orangtuanya.

“Apa mantan kekasihmu itu sudah mencap kamu sebagai wanita egois secara langsung di depanmu?” tanyaku serius.

Setelah 1 menit ia memandang mataku yang tidak bercanda dengan pertanyaan itu dan aku memandang matanya yang berkaca-kaca menahan tangis, sambil menutup mulutnya dengan tisu ia kemudian menjawab,

“Ya..”

“Itu yang membuatku merasa bersalah,” kata Emma. “Aku menolak seseorang di usianya yang sudah harus menikah karena aku ingin berkarir. Aku jadi merasa egois, terlebih ketika dia mengucapkannya secara langsung ke mukaku,” lanjutnya.

“Ah, kamu ini. Sekarang aku tanya, siapa sih yang nentuin umur 27 itu umur harus udah nikah? Atau 34 itu terlalu tua untuk nikah? Atau 58 tahun itu kamu ga boleh nikah? Ada aturannya? Kan ga ada,” jelasku.

“Ngg.. Iya juga sih,” balasnya sedikit terisak.

“Jadi, menurutku itu hanya akal-akalan masyarakat aja di mana kita mesti bertahan hidup di dalam pemahaman umum mereka itu dengan segala tekanan yang menyerang dari segala arah. Kamu ga mesti terlarut dalam rasa bersalah gitu,” lanjutku.

“Kamu harus mengerti bahwa di luar sana ga semua orang berpikiran seperti mantan kekasihmu. Setidaknya ada beberapa orang yang berpikir seperti aku melihat masalah kamu ini. Jadi, ga usah kamu merasa egois begitu yah?” hiburku.

Aku mencoba untuk mengerti sikap emosional mantan kekasih Emma yang memaksa untuk menikah setelah ia menjelaskan bahwa sudah 5 tahun ia menabung khusus untuk sebuah pernikahan suci. Namun, seketika rasa simpatiku buyar.

“Dia selingkuh..” jelas Emma. “Dia selingkuh sebelum kami putus setelah dia memaksa mengajakku menikah. Itu jadi salah satu alasan mengapa aku bisa memutuskan hubungan kami,” lanjutnya.

“Gimana kamu tahu kalau dia selingkuh?” tanyaku usil tanpa harapan dia akan menjawab pertanyaan itu.

“Aku lacak riwayat akun media sosialnya. Kami ga saling mengikuti karena suatu hal. Tapi, dia memanfaatkan itu dengan main gila dengan wanita lain. Sejujurnya, aku ga terlalu mempermasalahkan masalah selingkuh itu,” jelasnya.

Itu membuatku cukup terkejut. Bagaimana bisa seorang primadona SMA yang hingga kini tidak kehilangan pesonanya diselingkuhi oleh pacarnya? Aku saja belum tentu bisa bersama wanita semacam ini. Dunia ini sudah gila.

“Aku tetap yakin kalau kamu bukanlah pihak yang egois. Mantan kekasihmu itu menuruti permintaan pertamamu untuk mencari wanita lain yang mau diajak nikah, tapi dia tidak menuruti permintaan keduamu untuk putus denganmu. Lalu siapa yang egois? Siapa yang ga mau rugi di sini?” jelasku.

Ia tertegun cukup lama, mencoba mencerna logika yang ku berikan. Kemudian ia terhenyak, dan berkata,

“Iya juga, yah..”

“Kamu itu udah nawarin solusi dan mau berkompromi dengan minta tunangan. Arahnya masih sama dengan pernikahan. Aku jadi kasihan ke mantanmu itu” lanjutku.

“Lho?! Kok kasihan ke dia? Kok ga kasihan ke aku?” sambarnya.

“Buat apa aku kasihan ke pihak yang menang? Orang seperti mantan kamu itu yang mesti kita santuni dan kasihani,” jawabku.

Ia terdiam sejenak seolah belum pernah ada yang menyebutnya sebagai pihak yang menang; seolah ini pertama kalinya ia menjadi pihak yang menang dalam riwayat perjalanan hidupnya dengan mantan kekasihnya.

“Makasih, yah. Seengaknya sekarang aku punya sudut pandang yang berbeda melihat permasalahan ini,” ujarnya.

“Sama-sama. Seru juga yah cerita kamu. Drama banget,” jawabku usil.

“Hih! Kamu..” bentaknya manja.

Kami sudah merasa letih menghabiskan hari dengan bekerja, berdiskusi dan bercengkrama. Emma menguap beberapa kali. Tetap saja cantik.

“Yuk, pulang?” ajakku.

“Yuk..” jawabanya sambil mengeluarkan lip balm dan… ya Tuhan, mengoleskannya kepada bibirnya yang sudah merah alami.

Ketika kami berjalan ia merogoh tasnya dan berkata, “Nih, mau permen?”

“Eh, mau dong. Thanks yah..” jawabku.

Dalam perjalananku menuju tempat kost setelah mengantarkannya pulang, aku menyadari bahwa sebenarnya tujuan hidup orang pada umumnya teramat sederhana. Namun, banyak kerumitan yang harus dilalui untuk mencapai tujuan sederhana itu.
Sementara itu, aku masih bertanya-tanya sebenarnya apa yang aku cari? Atau lebih tepatnya, siapa yang aku cari?

Aku pun kemudian berikrar untuk tidak menghubunginnya lagi.

Jakarta, 23 Oktober 2014

Comments

Popular Posts