Tawuran? Menelaah Ulang Akar Permasalahan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK/STM) di Purwakarta

Tidak ada warga Purwakarta yang tidak mengetahui sengitnya permusuhan antara SMK/STM YPK dengan STM YKS, begitu pula kedua STM itu dengan STM lain, begitu pula STM lain dengan STM lainnya. Sederhananya, rivalitas STM di Purwakarta sudah berada pada tahap pabaliut, it's complicated, atau amat sangat rumit.




Penyebab rivalitas di atas beragam. Jika Anda bertanya ke berbagai sumber di setiap STM yang ada di Purwakarta, saya yakin Anda tidak akan mendapatkan jawaban yang seragam mengenai ini. Kesimpulannya, hingga tulisan ini diterbitkan, tidak seorang pun mengetahui secara pasti apa yang benar-benar menjadi dorongan utama para siswa STM di Purwakarta; apakah itu karena berebut wanita? Hasutan alumni/gangster? Hanya karena saling bertatapan mata di jalan? Saling mengejek? Kekerasan dalam keluarga? Itu semua masih misteri.

Tawuran yang telah membudaya semenjak saya masih mengenyam pendidikan di TK Melati, Gg. Mawar, dapat dikatakan telah mencapai titik terparahnya dalam empat tahun terakhir. Pada tanggal 10 Januari, saya dan Hari Akbar Muharamsyah membuat sebuah daftar pemantauan dan analisis media terkait kasus-kasus kekerasan remaja di Purwakarta rentang waktu 2011-2014, dan hasilnya:


......cukup menyedihkan. Insha Allah,  Anda tidak akan bosan membaca keseluruhan tabel tersebut berulang-ulang sambil mengucapkan istigfar.



Penting untuk diketahui bahwa Pemerintah daerah Kabupaten Purwakarta cukup menikmati peran sebagai pihak yang selalu menyalahkan Yayasan/SMK/STM atas setiap kasus yang terjadi, sementara pihak sekolah menolak untuk disalahkan karena menurut mereka segala upaya sudah dan selalu dilaksanakan agar anak-anak tidak kembali ke jalanan.

Titik terendah dari 'ritual' saling menyalahkan tersebut mulai tampak ketika Pemda menghentikan kegiatan PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) bagi Yayasan yang siswanya terlibat tawuran melalui produk hukum yang beliau keluarkan. Itu ditanggapi dengan proses hukum yang dilakukan oleh Yayasan yang terdampak Peaturan Bupati tersebut. Kasus ini kini tengah berada di level banding dari pihak Pemda yang sebelumnya telah kalah.

Yang terbaru adalah Bupati Purwakarta akan mencabut izin operasi dua STM yang belum lama ini beberapa siswanya terlibat tawuran. Mungkin jalan pikiran kepala daerah Purwakarta adalah:

Jika ada hama di lumbung padi, bakar lumbungnya, jangan repot-repot membasmi hamanya. 

Saya--melihat dari kacamata masyarakat sipil yang juga adalah salah satu pemangku kepentingan di Purwakarta--memiliki asumsi bahwa setidaknya ada 4 (empat) alasan, jika bukan anggapan, terkait akar permasalahan budaya tawuran di kalangan siswa STM di Purwakarta:


1. SMK/STM Dianggap Tidak Bergengsi
Bagi saya, poin pertama ini semata-mata merupakan masalah pemasaran yang erat kaitannya dengan masalah reputasi. Poin ini merupakan poin introspektif yang amat sangat perlu disadari oleh seluruh pihak, bukan hanya sekolah. Reputasi saja tidak baik ditambah strategi marketing yang buruk, tentu akan semakin sulit untuk membentuk gengsi bukan gengster yah tersendiri.

Orangtua mana yang ingin menyekolahkan anaknya ke sekolah yang memiliki reputasi buruk? Mungkin tidak ada kecuali mereka yang tidak memiliki banyak pilihan. Penting untuk dicatat bahwa hubungan antara reputasi-marketing-gengsi berlaku bagi semua seolah baik kejuruan maupun bukan karena ini merupakan aspek yang sangat umum dijadikan pertimbangan orangtua untuk pendidikan anaknya. Jadi, tidak ada diskriminasi di dalam kepala saya mengenai ini.

2. Kurangnya Dukungan para Pemangku Kepentingan
Jika dipetakan secara kasar, setidaknya saya dapat mengidentifikasi tiga pemangku kepentingan terbesar dalam fenomena ini; Sekolah, Pemda, dan--pihak yang selama ini peranannya absen--masyarakat sipil. Jika kita berbicara hubungan antara Pemda dan sekolah, kelihatannya jauh dari kata harmonis dengan hadirya berbagai ancaman bagi sekolah, tindakan hukum terhadap Pemda, saling menyalahkan,  boro-boro dukungan.

Lalu masyarakat? Selama ini kami berperan sebagai korban psikis maupun fisik. Rumah kami dijadikan tempat persembunyian para siswa yang tawuran maupun dikejar Satpol PP, Polisi, atau pun masyarakat lainnya. Kami hanya dapat mengoceh, mengerutkan dahi hingga berteriak kesal ketika kejadian tawuran berlangsung. Itulah peran penting kami. Hingga tulisan ini terbit, saya belum pernah mendengar apalagi melihat peranan masyarakat yang berusaha meemcahkan masalah semacam ini, selain kegiatan Goes to School yang dilakukan beberapa mahasiswa Purwakarta dari berbagai Universitas dalam mempromosikan pendidikan tinggi.

3. Kurangnya Sarana dan Prasarana Penyaluran Energi dan Potensi
Saya masih pernah muda dan sangat mengerti gejolak energi yang lubér di dalam tubuh. Energi tersebut pasti harus disalurkan, dan dapat dalam berbagai kegiatan seperti bermain sepakbola, bermusik, latihan paduan suara, mengikuti bimbingan belajar, bermain basket, latihan renang, bermain tenis, bermain orkestra, dan kegiatan lain sebagainya.

Lalu bagaimana ketika sarana dan prasarana untuk menyalurkan energi secara positif dan produktif, boro-boro terawat, ada saja tidak? Ya pilihannya tidak sulit, sebagai remaja Anda tinggal nongkrong bergerombol di pinggir jalan dan mencari berbagai alasan untuk tawuran atau membajak truk di tengah jalan.

Lalu siapa yang bertanggung jawab dalam memenuhi sarana dan prasarana kegiatan kepemudaan di Kabupaten Purwakarta? Jokowi. Ya, ini semua salah Jokowi dan kaum Yahudi yang berkonspirasi di belakangnya.

4. Krisis Kepercayaan Diri
Saya percaya bahwa karakter yang gampang nyolot, insecure, dan mengedepankan kekerasan berakar pada krisis kepercayaan pada dirinya. Amerika, negara paling insecure se-dunia, adalah contoh sempurna untuk itu dalam menjalankan agenda menjaga keamanan nasional yang selalu mereka 'jual'. Anak-anak STM yang doyan tawuran ini nampaknya tidak beda.

Yang perlu kita kejar adalah aspek apa yang sesungguhnya menyebabkan mereka dianggap sebagai masyarakat kelas sekian di mata warga Purwakarta lainnya? Mengapa mereka yang bergerombol nongkrong di pinggir jalan dipandang rendah oleh masyarakat? Mengapa mereka mengalami krisis kepercayaan diri? Apa sebenarnya yang membuat mereka takut dalam menjalani hidup masa kini dan menyongsong masa depan mereka?

Kita tidak pernah peduli untuk berusaha mencari tahu jawaban dari itu semua sehingga lingkaran setan se-setan-setannya ini terus berlanjut di masyarakat.  

Seluruh asumsi saya ini mungkin saja salah. Setidaknya ini bisa dipertimbangkan untuk menjadi bahan pemikiran lebih lanjut.

Mengapa peran masyarakat itu penting?

Suatu hari, anak saya baru turun dari sebuah bis yang mengantarnya pulang dari Bandung, tempatnya kuliah. Tiba-tiba, tak lama setelah ia turun di perempatan Jl. Veteran (Jalan Baru), ia terjebak di tengah hiruk pikuk tawuran antar STM dan kemudian tertusuk celurit yang dibawa oleh para pelaku tawuran tersebut. Saya dan keluarga harus menanggung rasa duka yang mendalam mendapati kenyataan bahwa anak saya yang tidak tahu apa-apa harus menjadi korban jiwa dari perbuatan konyol oknum pelajar karena isu tawuran selama ini tidak benar-benar secara serius dicari solusi apalagi tindakan pencegahannya.

Apakah ilustrasi di atas mungkin terjadi? Di Purwakarta, tidak ada yang tidak mungkin terjadi saat ini. Percayalah.



Itulah mengapa, kehadiran masyarakat sebagai pemangku kepentingan juga tidak kalah penting. Saya hanya dapat berharap--karena segala kemungkinan terburuk itu tidak belum pernah terjadi pada orang-orang yang kita cintai--semoga hal-hal yang masih kita anggap sepele seperti tawuran ini tidak akan pernah kita anggap serius di masa depan.

Do you care enough?

Comments

  1. Kata Bang Oma : Darah muda darahnya para remaja yang selalu merasa gagah,tak pernah mau mengalah masa muda masa yang berapi-api yang maunya menang sendiri walau salah tak perduli.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi Bang Oma terlalu memukul rata, karena tidak semua darah muda seperti itu. :p

      Delete

Post a Comment

Wanna save the world? Share this piece.

Popular Posts