6 Hal Mengenai Mereka yang Tidak Punya Etika di Dalam Bioskop



Saya dan mayoritas penghuni galaksi Bima Sakti memiliki masalah serius dengan orang-orang yang menolak mematuhi etika ketika menonton di bioskop. Upaya pelanggaran etika dalam menonton di dalam bioskop yang masih terjadi di 2017 membuat saya, seorang moviegoer yang menjunjung tinggi etika menonton di dalam bioskop seperti mayoritas manusia lainnya, berkontemplasi mengenai makna perilaku-perilaku para pelanggar etika tersebut.

Sementara teman saya @aditryan berhasil menelurkan beberapa tips agar Anda menjadi manusia yang lebih beradab ketika menonton film di bioskop secara apik, saya malah tidak ingin menahan diri untuk menyimpulkan enam poin mengenai mereka yang tidak memiliki etika di dalam bioskop.

1. Anda Buta Huruf

Negara ini telah lama menjadi terpuruk akibat ulah orang-orang yang tidak mematuhi larangan membuang sampah sembarangan, dilarang merokok di area/dalam Bis Ekonomi ini, dan matikan perlengkapan elektronik Anda ketika film telah dimulai. Semacam itu.

Sederhana saja, saya beranggapan bahwa mereka yang tidak mematuhi instruksi positif tersebut secara mendasar memang tidak memiliki kemampuan membaca huruf-huruf yang mumpuni, mungkin juga buta huruf. Dalam konteks menonton film bioskop, daftar etika menonton di bioskop selalu diputar di layar dengan ukuran font yang cukup besar; latar belakang yang kontras, dan bahasa yang mudah dimengerti oleh manusia berpendidikan pada umumnya.

2. Anda Egois

Egois adalah sebutan bagi seorang penganut egoisme. Dan egoisme adalah tingkah laku yang didasarkan atas dorongan untuk keuntungan diri sendiri daripada untuk kesejahteraan orang lain; teori yang mengemukakan bahwa segala perbuatan atau tindakan selalu disebabkan oleh keinginan untuk menguntungkan diri sendiri.

Ketika tangan Anda bersinar di dalam bioskop yang sedang memutar film, hanya Anda yang diuntungkan dari segala update WhatsApp, IG Story, Path, dan apapun yang Anda pikir penting bagi Anda sendiri. Anda kemudian menjadi manusia yang paling unggul setelah melakukan apapun dengan gadget Anda, sementara kami, 64.388.823 penonton lainnya tidak ikut naik level sebagai manusia seperti Anda. Melainkan, kami hanya terdistraksi oleh cahaya gadget keren Anda yang berlangsung selama 15 menit itu. Ganggu. Ngerti?

3. Anda Tidak Ingin Menghargai (dan Dihargai) Orang Lain

Ribuan tahun (ya, saya sudah hidup ribuan tahun) kita mendengar ungkapan, "Hargai Orang Lain Jika Kita Ingin Dihargai." Cukup jelas, bukan?

Saya mengerti, tidak semua manusia memiliki kekuatan mutant untuk mengamalkan nilai-nilai positif yang terkandung di dalam ungkapan tersebut. Nah, jika Anda telah menyadari bahwa Anda tidak memiliki super power tersebut, mulailah mempertimbangkan untuk tidak menonton bioskop lagi seumur hidup. Saya kira, kita semua tahu diri.
 

4. Anda Mengalami Krisis Empati

Empati adalah keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain. Jika Anda dapat memberi kursi di bis umum untuk lansia atau wanita hamil, artinya Anda memiliki kemampuan sihir bernama empati.

Nah, bisakah Anda aplikasikan itu di dalam bioskop dengan pertimbangan bahwa jutaan orang di dalam teater akan amat sangat merasa berterimakasih hingga akhir hayat mereka jika Anda tidak melanggar etika di dalam bioskop?

Tidak usah dijawab. Cukup praktikan saja.

5. Anda Enggan Belajar

Katakanlah Anda pernah melakukan kebodohan bermain gadget ketika film berlangsung sekali (selama 30 menit atau hingga film berakhir *tepok jidat*), kemudian Anda membaca tulisan ini, entah bagaimana Anda menemukannya. Namun, tidak sedikit pun jiwa kemanusiaan paling dalam Anda tersentuh setelah membacanya. Nah, itulah saat yang tepat bagi saya untuk melabeli Anda sebagai manusia yang enggan belajar.

Bisa dimengerti, mungkin karena Anda sudah cukup jenius.

6. Anda Berbakat Menjadi Koruptor

Korupsi lahir dari benih-benih kompromi dan permisif terhadap etika dan aturan-aturan. Saya rasa, itu semua cukup menjelaskan. Jika Anda mengasah kemampuan melanggar etika dari satu film ke film lainnya di bioskop, saya kira Anda bisa menjadi seorang koruptor yang handal. Jika masih kurang jelas, Anda bisa mengunjungi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk penjelasan lebih lanjut.

Saya menerima dengan tangan terbuka segala bentuk keberatan dari mereka yang merasa sebagai para pelanggar etika menonton di dalam bioskop setelah membaca ini. Cheers!

Comments

Popular Posts