Astagfirullah! Artikel Kebencian dan Fitnah Ternyata Menguntungkan Jejaring Sosial Milik Seorang Yahudi

Anda tahu siapa Mark Zuckerberg? Dia adalah salah satu orang Yahudi paling berpengaruh di dunia. Setidaknya itu menurut The Jerusalem Post. Nah, ini juga bukan sebuah rahasia bahwa ia merupakan pemilik Facebook, sebuah jejaring sosial yang sebenarnya sedang menuju jurang ketidakmenentuan yang kemudian nampaknya sedang 'diselamatkan' oleh orang-orang Indonesia yang kelihatannya sangat membenci--entah agama atau kaum--Yahudi.

Bagaimana bisa ironi itu terjadi? Berikut observasi saya.

1. Anomali Newsfeed Facebook Indonesia

Karakteristik Newsfeed pengguna Facebook aktif di Indonesia telah mengalami transformasi yang cukup dramatis. Dari mulai bertaburannya pernak-pernik Mafia Wars dan FarmVille hingga, yang menyedihkan saat ini adalah, bertaburannya artikel bernuansa kebencian, provokatif, non-ilmiah yang mengarah kepada fitnah. Semakin sini, rasanya semakin terasa menyimpang aspek logikanya.


Tidak jarang embel-embel 'konspirasi Yahudi', 'Iluminati', 'Freemason' hingga 'Neo-Liberal' disangkutpautkan dalam peristiwa apa saja dalam artikel abal-abal yang orang-orang tersebut bagikan di Newsfeed. Apakah sebenarnya mereka sedang membicarakan hal yang benar-benar mereka pahami? Entahlah, hanya mereka dan Tuhan yang Maha Penyayang yang mengetahui.

 2. Potensi Keuntungan Ekonomis bagi Facebook

Sebenarnya, para penyebar fitnah dan kebencian sedang melakukan free marketing kepada orang-orang untuk kembali mengakses Facebook. Betapa tidak? Facebook disebut sebagai satu-satunya jejaring sosial yang pengguna aktifnya menurun di survey milik GW Social sepanjang 2014.

Sementara itu, para manusia tidak bertanggungjawab pembenci segala itu menjadikan Facebook sebagai hub atau penghubung antara audiens dengan website artikel abal-abal. Otomatis, traffic Facebook akan terangkat dengan semakin banyaknya orang yang kembali mengunjungi Facebook karena penasaran dengan artikel-artikel menyimpang tersebut.

Sementara itu, tujuan website abal-abal itu juga adalah bisnis dimana banyak pihak bisa menyimpan iklan di website mereka melalui skema:  

Pengguna Facebook Yang Belum Tercerahkan->Link Artikel Kebencian->Website Abal-Abal->Klik Iklan di Situs Abal-Abal.

Nampaknya, mereka adalah penopang panjangnya nafas Facebook hingga hari ini. Mark berhutang banyak kepada mereka

Apakah itu berarti Facebook untung? Dari segi penambahan pengguna aktif pasti ya. Yang terpenting adalah free marketing yang berhasil mengembalikan users ke Facebook melalui artikel abal-abal, sehingga potensi iklan-iklan yang dipasang di Facebook diklik oleh mereka yang kembali ke Facebook akan semakin besar.

Buktinya saya yang sudah berhenti membuat status Facebook semenjak 3-4 tahun lalu 'dipaksa' untuk aktif kembali karena ketertarikan saya terhadap anomali yang menggangu logika dan hati nurani tersebut. 
Semenjak saya mulai aktif kembali, jujur saja saya sempat beberapa kali mengklik sidebar ads Facebook tentang beberapa produk maupun paid article yang judulnya tidak kalah bombastis dan isinya tidak kalah trivial dengan artikel abal-abal yang sedang kita bahas di sini. 

Saya yakin saya tidak sendiri.

Klik ini jika Anda ingin mengetahui lebih jelas bagaimana Facebook mendapatkan uang dari iklan maupun non-iklan.

Saya menyadari bahwa kita, setiap manusia, memiliki kecenderungan untuk menjadi seorang Masokis, yaitu menemukan kenikmatan dalam hal-hal yang mengerikan, menjijikan atau menyakitkan kepada diri kita sendiri, contohnya seperti membaca fitnah, provokasi dan kebencian yang ada di dalam sebuah artikel. Begitulah mungkin bagaimana pengunjung baru (maupun lama) Facebook kembali mulai membaca Newsfeed mereka yang mulai menyimpang.

Satu hal lagi, saya tidak mengerti apa yang salah dengan menjadi seorang Yahudi? Itu adalah sebuah agama, dan setiap orang bebas meyakini apa yang mau mereka yakini. Dan jika Yahudi adalah sama dengan pemerintah Israel yang jahat, itu tidak sepenuhnya benar karena banyak warga negara Israel yang beragama Yahudi yang tidak setuju dengan kekerasan yang dilakukan oleh pemerintahnya.

Pemerintahannya bukan agamanya.
Seperti, saya sebagai muslim tidak terima jika Islam dicap sebagai agama penyebar teror, kebencian, fitnah, provokasi, karena memang itu tidak benar. Islam itu satu, muslim itu banyak.

Saya mengajak agar para penikmat artikel abal-abal segera menyadari bahwa masyarakat sudah banyak yang resah dengan anomali di atas. Sebuah petisi bahkan sudah dibuat, menandakan bahwa kampanye kebencian yang dilakukan oleh para pembenci segala itu sudah tidak bisa ditoleransi.

Kutipan dari Quraish Shihab di atas akan menjadi penutup sekaligus pengingat bahwa kita jangan bernafsu dan bodoh untuk secara bulat-bulat menelan informasi yang jorok dan berserakan. Berpikir kritis dan melakukan riset itu penting. Itu jika kita ingin berjihad.

Comments

Popular Posts