Indonesia Tidak Sendiri: Mengenal 10 Organisasi Ekstrim di Eropa (Bagian 1)


Hari ini para penerus bangsa, anak-anak Indonesia kembali akrab dengan berbagai narasi mengenai "Pribumi", "Mayoritas", "Ganyang Cina", dan lainnya. Terima kasih kepada Bapak dan Ibu yang terhormat yang telah mendukung dan mempopulerkan narasi tersebut sehingga anak-anak di seluruh Indonesia kini dapat mempertimbangkan untuk meresapi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.


Sebagian orang berkeyakinan bahwa saat ini Indonesia tengah berada di masa kegelapan atau Dark Age. Sebagian pasti setuju dan sebagian mungkin tidak. Namun, bisa jadi itu benar. Jika ukurannya adalah penggunaan narasi pribumi, misalnya, untuk meraih kepentingan sosial dan politik, maka bisa jadi Dark Age itu benar adanya.

Tapi, Indonesia tidak sendiri.

Mari kita mengenal 10 organisasi sayap kanan ekstrim di benua Eropa yang selalu memainkan narasi serupa di atas untuk demi kepentingan sosial, ekonomi, dan politik mereka.

1. Italia - Lega Nord (North League)

Pemimpin Lega Nord Matteo Salvini
Nama panjang organisasi ini adalah Lega Nord per l'Indipendenza della Padania (North League for the Independence of Padania). Selain menjadi partai separatis, ideologi Lega Nord yang dipimpin oleh Matteo Salvini ini adalah anti-imigrasi, anti-globalisasi, dan eurosceptimism. Partai ini rajin "menyalahkan" para imigran muslim di Italia sebagai penyebab lunturnya identitas Kristen dan menurunya ekonomi di Italia. Di tahun 2003, mantan pemimpin Lega Nord Umberto Bossi bahkan pernah menyarankan polisi untuk menembak perahu para imigran dari Afrika yang menuju Italia. Dengan menjual narasi tersebut, Lega Nord berhasil menjadi tiga partai teratas dalam Ipsos Italia Poll dengan 13% Ampuh!

2. Belanda - Partij voor de Vrijheid (The Party for Freedom)

Pemimpin Partij voor de Vrijheid Geert Wilders
Siapa tak kenal Geert Wilders? Orang yang menyamakan Al-Quran dengan Mein Kampf, ia percaya bahwa Islamisasi sedang terjadi di Belanda saat ini, melarang pendirian mesjid di Belanda, dan Geert sangat kencang menolak imigrasi dari negara mayoritas berpenduduk muslim. Geert dikenal sebagai seorang populis atau orang yang sangat mengejar ketenaran, haus akan panggung sosio-politik di Belanda dan dunia. Dengan menjual semua narasi tersebut partainya sempat berhasil menempel ketat partai Perdana Menteri Belanda Mark Rutte.

3. Denmark - Danish People's Party

Pemimpin Danish People's Party Kristian Thulesen Dahl
Para akademisi mendeskripsikan partai ini sebagai partai Pribumi (nativist) Denmark, anti-imigran, dan populis (seperti Donald Trump). Di tahun 2008, pemimpin Dansk Folkeparti Kristian Thulesen Dahl mendeklarasikan partainya anti-muslim. Hebatnya, dengan menjual narasi semacam itu, di 2015, berhasil menjadi partai terbesar kedua di Denmark dengan meraih 21% di Pemilihan Umum.

4. Swedia - Sweden Democrats

Pemimpin Sweden Democrats Jimmie Åkesson
Jimmie Åkesson dari Sweden Democrats yang menyatakan diri sebagai pengagum Donald Trump, merupakan pemimpin satu-satunya partai oposisi di Swedia. Sweden Democrat juga dilaporkan sangat terkait dengan white supermacist dan telah sukses menjual narasi anti-imigran. Buktinya, saat ini Swedish Democrat memiliki 49 kursi di Swedish Riksdag (Parlemen Swedia) dengan 12,9% suara nasional, dan menjadi partai terbesar ketiga di negara tersebut.

5. Finlandia - Perussuomalaiset (Finns Party)

Pemimpin Finns Party Timo Soini
Finns Party atau The Finns merupakan partai "pribumi" yang saat ini menempati posisi kedua sebagai partai terbesar di parlemen Finlandia dengan koalisi yang mereka miliki sekarang. Seperti sahabat mereka di Italia, The Finns juga merupakan partai euroscptimism dan anti-globalisasi. Beberapa anggota partai tersebut dikenal rasis dan senang mendiskreditkan orang dengan keyakinan yang berbeda.

>>>Dilanjutkan ke Bagian 2.

Comments

Popular Posts