Cerpen: Emma II

Jumat di kantor.
Jam dinding kantor menunjukkan pukul 16:45. Sore itu aku bekerja keras seperti biasa. Mencari sebongkah berlian demi menggapai sejumlah impian di masa depan. Hari Jumat adalah hari yang amat sangat keramat karena aku selalu teringat keluarga dan teman sejawat di kampung halaman yang telah menunggu.
Setiap Jumat petang aku pulang ke Purwakarta.
Sialan. Aku mendadak penasaran. Aku membuka Twitter di desktop sebelum berjalan kaki menuju Pancoran di mana travel menuju Purwakarta bertengger. Aku ketik nama “Emma” di search tab dan—meskipun Emma mengunci akunnya—munculah sederet riwayat twitnya. Ah, aku kira tidak ada salahnya.
Diantara sederet twit terdapat sebuah foto berisi dua pasangan dan Emma ada di situ bersama seorang lelaki berbadan tegap, wajahnya dipenuhi kumis dan janggut dan ia memakai kacamata yang khas. Mungkin dialah lelaki sejati yang Emma ceritakan kepadaku. Mungkin dialah cinta mati Emma dahulu. Ketika melihatnya, aku merasa seperti langsung mengenalnya. Ah, aku masih yakin kalau ini tidak ada salahnya.

Pancoran
Jika ada seorang anggota Mossad dan ditugaskan membunuhku, sangat mudah untuk melacak seseorang yang memiliki kegiatan rutin di hari Jumat sepertiku.
Pulang dari kantor aku pasti berjalan selama 30 menit menuju Pancoran melewati rute yang selalu sama, yaitu memotong jalur Patra Jasa. Sampai di sana aku pasti langsung ke lantai dua Pancoran Square untuk menyantap makanan ala Jepang sebelum sembahyang dan kemudian kembali ke bawah untuk membeli tiket travel dan menunggu kendaraan menuju kampung halaman.
Aku melakukannya seperti biasa, tanpa firasat apa-apa, tanpa merusak sedikitpun keseimbangan dunia.
Seperti biasa, aku menikmati santapan ala Jepang di lantai dua Pancoran Square dan duduk di tempat duduk favoritku yang menghadap kaca besar di mana aku bisa melihat orang-orang yang menaiki escalator langsung menuju lantai dua di depan mukaku.
Namun, melihat dengan canggung wajah orang-orang yang naik dari lantai satu bukanlah tujuanku. Dari tempat duduk itu aku bisa melihat kerumunan orang-orang yang mendaftar dan memabayar untuk menaiki travel menuju Purwakarta. Ya, pemandangan langsung menuju meja pembayaran di lantai satu.
Di tengah momen menikmati santapan sebelum perjalanan, tiba-tiba mataku dipaksa untuk memperhatikan seonggok daging yang dikerubuti rambut di sekitar mukanya dan mengenakan kacamata khas yang seolah aku baru melihatnya beberapa saat yang lalu. Ia terlihat seperti mencari seseorang di lantai dua sekitar restoran tempatku menjalani ritualku.
Aku perhatikan lagi, aku ingat-ingat lagi, dan tidak salah lagi, dia adalah mantan kekasih Emma.

Submanusia
Aku tidak merasakan apapun. Otakku langsung beroperasi seperti detektif dengan memunculkan berbagai pertanyaan yang kemudian melahirkan beberapa pernyataan.
Apa yang mantan Emma lakukan di sini? Siapa yang dia cari? Bagaimana ia bisa berada di sini di jam seperti ini?
Proses sintesis pernyataan dari pertanyaan kemudian menghasilkan:
Mungkin dia dan Emma sudah berjanji untuk saling bertemu; mungkin mereka sudah berbaikan dan lelaki ini akan ikut ke Purwakarta; mungkin lelaki ini ingin memberikan kejutan akan kehadirannya di Pancoran Square.
Satu hal yang pasti, aku semacam mengetahui bahwa Emma akan datang malam itu dengan melihat kehadiran sosok ini. Aku harus menjaga jarak malam itu karena mereka pasti lebih memiliki kepentingan dan relevansi untuk menghabiskan malam berdua.
Jikapun kami bertiga bertemu, aku rasa dengan bersahabat Emma akan memperkenalkanku kepada sosok itu sebagai kakak kelasnya yang culun dari kampung, semua senang, semua bahagia, semua berteman di dunia yang sempurna ini.
Aku memutuskan untuk menunggu di teras Square setelah sembahyang dan membayar tiket untuk menghirup udara segar karena ternyata mobilku terjebak macet. Di dalam terlalu sesak dan akan semakin menyesakkan.
Sambil menenggak air mineral, Tuhan memberi kesempatan kepada mataku untuk kemudian secara tidak sengaja melihat Emma yang mengenakan kaos berwarna merah muda memasuki pintu yang berada jauh di kiriku. Emma tidak melihatku.
Dari arah punggungku, muncul kembali seonggok daging yang dikerubuti rambut di sekitar mukanya dan mengenakan kacamata khas yang seolah aku baru melihatnya beberapa saat yang lalu. Ia kembali terlihat seperti mencari seseorang sesaat setelah Emma memasuki Square. Ia melihat Emma, dan aku memperhatikannya berjalan ke atas mengejar Emma.
Aku kembali ke dalam untuk mengecek posisi mobil, dan, wow, aku bertemu teman lamaku, Ari, di sana dan kami mengobrol seru sekali. Di tengah lobi Square kami duduk dan berbincang hingga tak lama kemudian petugas travel memanggil Emma yang duduk persis di tempatku makan di atas. Ia bersama mantan kekasihnya kulihat sebelumnya, dan Emma tak terlihat antusias.
Mantan kekasihnya kemudian berdiri di pintu keluar sementara Emma berjalan menuju ke arah meja pembayaran di dekatku. Ia kemudian duduk di sebelahku.

“Hai..” sapaku. “Hai..” balasnya dengan ekspresi yang datar.

Aku bersumpah untuk menjaga jarak dengannya malam itu. Duduk di antara Emma dan teman lamaku, aku memilih untuk berfokus menghabiskan sesi mengobrol dengan teman lamaku, Ari, dan baguslah, Emma pun fokus dengan teman elektronik genggamnya.

“Kang, saya mau ke dalem dulu yah. Mau beli sesuatu,” ujar Ari di tengah obrolan seru kami.

“Kalau mau minum saya ada nih,” balasku berspekulasi.

“Engga kok. Saya mau beli yang lain hehe..” balas Ari sambil melenggang menuju market Square.

Benar, deretan tempat duduk itu hanya menyisakan aku dan Emma dengan beberapa orang di depan dan belakang kami yang sama-sama menunggu mobil, dan tentu saja mereka pun sibuk tidak berinteraksi satu sama lain kecuali dengan perangkat elektronik kesukaan mereka.
Aku dan Emma pernah menonton film barsama di bioskop, kami banyak berbagi bercerita, kami memiliki momen yang menyenangkan beberapa hari lalu. Setidaknya itu menurutku. Rasanya, akan sangat tidak pantas dan canggung jika di momen itu aku sama sekali tidak berbicara dengannya.

“Naik yang jam berapa, Bu?” tanyaku usil.

“Jam 7,” jawabnya singkat dan ketus.

Ya Tuhan, apa salahku? Apakah pertanyaanku terlalu vulgar? Apakah mukaku menujukkan ekspresi yang tidak pantas saat bertanya? Apakah aku telah melakukan genosida? Apakah aku telah menampar seorang wanita sebelumnya sehingga aku pantas diperlakukan seperti itu?

“Oh..” jawabku sambil mengubur dalam-dalam usaha berinteraksi lebih lanjut seperti sewajarnya manusia.

“Lama banget sih, mba! Aku udah nunggu dari tadi nih,” ujar Emma kecewa.

“Mba, Mas ini udah nunggu lebih lama loh dari Mba. Biasa aja tuh dia,” balas petugas travel.

“Ya, namanya juga macet. Mau gimana lagi? Mau ngoceh juga ga bikin mobil itu nyampe lebih cepat ke sini toh,” ujarku menanggapi pernyataan si operator.

Emma cemberut, kemudian si operator mencoba memberikan harapan,

“Nanti deh, Mba. Kalau ada uangnya, kami bakalan tambah armada, biar lebih banyak dan lebih cepet rolling-nya.”

“Kalau punya duit, mending kalian fokus dulu ke maintenance kendaraan deh. Soalnya minggu kemarin mobil gue sama Mba ini ngalamin ban bocor tuh di tengah jalan tol,” kataku.

“Iya tuh, Mba!” sambar Emma antusias.

“Oh, itu mobilnya Mas yang kemarin gangguan. Saya udah bilang supirnya sebelum pergi buat cek kendaraan, jangan cari penyakit, eh dia ga nurut, Mas,” kilah si operator.

“Saya duduk di belakang tuh, Mba. Itu kan…” Emma meramaikan pembicaraan hingga ditengah penjelasannya si operator harus menjawab telepon yang masuk.

“Ih, tuh kan, aku mah ga didengerin cerita juga,” ujar Emma sambil cemberut manja sambil menepuk pahaku dan menatap wajahku yang tersenyum geli.

“Hahaha.. Yauda, nih ngomong sama botol air mineralku aja. Dia pasti mau dengerin,” godaku sambil memainkan botol minuman plastic di atas pahaku mengahadap Emma yang mulai terlihat senyumnya.

Kami kemudian saling tertawa dan es di antara kami mungkin tidak hancur, tetapi yang pasti, es di antara aku dan Emma telah mencair. Kemudian…

“Prakkk!”

Seseorang menampar mukaku dari sebelah kiri hingga kacamataku terjatuh ke lantai cukup keras secara tiba-tiba dan jantan sekali. Semua orang di sekitarku terdiam kaget melihat ke arahku, ada yang menertawakan, namun kebanyakan dari mereka hanya terpatung saja.
Ternyata, dia adalah submanusia yang sedari sore tadi mencari-cari Emma seolah dia itu adalah seorang buronan.

Orang yang telah melanggar batas privasiku ini kemudian bersabda, “Apa lo?! Ga terima gue gituin?! Untung engga gue tonjok juga!”

Ingatlah, sabda itu.

“Sebentar, sebentar..” ujarku kepadanya sambil mengambil kacamata murahanku dari lantai.

“Masalah lo apa, dan salah gue apa? Gue cuma lagi ngobrol sama adik kelas gue di sini. Ga macem-macem,” balasku terhadap sabdanya.

“Udah ih! Kayak anak kecil aja!” teriak Emma kepada submanusia itu. Kemudian tangan Emma ditarik dengan kasar dan ia dibawanya ke luar Square.

Perasaanku saat itu seperti baru saja divonis mengidap kanker dan kemudian vonis itu diumumkan di tengah lobi Square di mana semua orang berada di sana mendengarkan.

Bingung sekali.

Apa bingung bukan karena bertanya-tanya siapa submanusia yang baru saja hampir mengahajarku. Sebaliknya, aku bingung mengapa ini semua seolah telah ‘direncanakan’ dengan sangat rapi. Semua scene yang aku lihat dari awal perjalananku menuju tempat ini seolah membangun cerita tersendiri.

Aku bingung dibuat-Nya.

Mobilku datang, dan sialnya, Emma duduk berselang satu orang di sebelah kiriku. Submanusia itu tidak ikut. Kami diam sejuta bahasa sepanjang perjalanan menuju kampung halaman. Suasana itu bagaikan neraka yang bisu dibandingkan dengan suasana awal kami bertemu.
Aku tidak menanyakkan apa yang baru saja terjadi? Siapa orang itu? Apa masalahnya? Apa salahku? Karena bagiku, jikapun ada yang harus dijelaskan, itu harus datang dari Emma terlebih dahulu, bukan dari pertanyaanku.

Sepanjang perjalanan aku hanya dapat mendengar isak tangis.

Comments

Popular Posts