Purwakartan Cuisine 3: Sate Maranggi Plered-Sadang



Seluruh gambar milik @aditryn

Sebagai orang asli Purwakarta, saya sering SBY jika banyak turis hanya selalu mengunjungi Sate Maranggi Cibungur ketika melancong ke Purwakarta. Itu tidak salah. Itu tidak dosa.

Hanya saja.. persoalan Sate Maranggi, sebenarnya masih banyak di luaran sana yang tidak kalah berkualitas dan bahkan lebih ramah dompet.

Di edisi Purwakartan Cuisine 1, saya telah membahas Sate Maranggi Abah Usé, mengupas segala kelebihan dan kelebihannya. Nah, di Purwakartan Cuisine 3, saya akan mengupas sate maranggi favorit saya pribadi, yaitu Sate Maranggi Plered-Sadang.

Plered dan Sadang adalah dua nama daerah di Purwakarta; sate maranggi disebut berasal dari Plered, dan kedai sate favorit saya ini letaknya di Sadang dan tidak memiliki papan nama khusus. Letak Plered dan Sadang itu seperti jarak saya dan jodoh saya. Jauh.

Terlebih, kedai ini tempatnya tidak luas atau dikelilingi hutan jati dengan lahan parkir yang luas. Begini penampakannya:


Satu tusuk sate di kedai ini seharga Rp 2.100 (kagok? Sudahlah tidak usah protes. Murah ini). Jika kita makan di sana, makanan akan disajikan secara tradisional.

Kurang lebih seperti di restoran makanan Padang, makanan dikeluarkan semua, kita makan, dan dihitung berapa dan apa saja yang dimakan. Begitupun penyajian sate maranggi yang tradisional, kita akan disajikan sekitar 30 tusuk sate di atas meja, re-fill ketika menipis, dan dihitung berapa tusuk sate dan bungkus nasi yang dimakan.




Kedai sate ini sudah ada semenjak belasan tahun yang lalu ketika saya masih tinggal di Perumahan Sadang Sari Permai (sekarang sudah pindah ke Perumahan Griya Asri dan Jalan Kemuning No. 3 sebelah RM. Sambel Beledag).

Dahulu kala, Ibu sering menyuruh saya membeli sate ini karena rasanya enak dan dekat dari rumah. Ketika itu mereka masih menjual Es Kelapa Muda yang segar sekali. Entah mengapa sekarang tidak lagi. Ini masih menjadi sebuah misteri.


Khusus bagi yang vegetarian, saya anjurkan untuk tidak usah repot-repot mendatangi kedai sate maranggi ini karena di situ tidak menyediakan menu non-daging. Maaf. Mungkin nanti saya bisa usulkan lah agar lebih inklusif.



Meskipun tempatnya sangat humble, tidak besar, dan jauh dari kesan mewah, tapi saya bisa jamin kepuasan rasa yang hakiki akan didapatkan dari sana. Apalagi jika Anda menyukai gaji(h). Tanya saja teman-teman saya jika tidak percaya.. atau jika Anda kenal mereka sih.

Bagaimana? Tertarik mencoba?

Sampai jumpa di seri Purwakartan Cuisine berikutnya! :)

Comments

Popular Posts